Black powder Vs Pop Rock 1975

Jajan sembarangan bikin sakit perut!

Pernah lihat iklan obat entrostop kids ya. Ada adegan adik kecil bawa jajanan anak SD, di depan kelas. Sesuatu yang serius tiba-tiba terjadi. Ia mengerang sambil memegangi perutnya. santapan di tangannya itulah, yang konon bikin si adik, bilang ‘aduh’ sambil memegang perut mulesnya, dan langsung lari kebelakang.

Sakit perut akibat jajan sembarangan ini juga dialami laki-laki bernama Rofik yang minta uang orang tua untuk membeli black powder.

Ditulis KOMPAS.com – Kapolda Jawa Tengah Irjen Rycko Amelza Dahniel mengatakan, pelaku bom bunuh diri di pos polisi Kartasura, Sukoharjo, Rofik Asharudin (22), membeli komponen yang dirakit menjadi bom menggunakan uang yang diminta dari orangtuanya.

“Beli komponen dari uang minta orangtua, belinya dicicil,” kata dia di Semarang, Rabu (5/6/2019).

Setelah “mengkonsumsi” jajanan ini,
menurut keterangan polisi: “RA(22) mengalami luka di bagian tangan kanan dan perut.”

Ini jajanan ekstrim. Cara menikmatinya diledakkan.
Sudah seperti permen pop rock yang muncul di pasaran, pada tahun 1975.

Resep jajanan ini, diracik oleh seorang ahli kimia, bernama William A Mitchell. Bahan permen terbuat dari bubuk. Bukan bubuk hitam pastinya. Tapi, bubuk karbon dioksida.

Gimana caranya, jajanan satu ini bisa meledak?

Untuk menimbulkan efek meledak-ledak,
gula digasifikasi dengan karbon dioksida. Gasifikasi adalah proses perubahan benda padat menjadi gas. Ketika kedua bahan ini akan bereaksi dengan saliva atau air liur, permen akan larut dan gas terlepas, terus meledak deh!

Pop rock ini aman dikonsumsi, asal tidak berlebihan saja.
Permen ini cukuplah ya, buat yang pengen ngerasain sensasi meledak-ledak, tanpa jadi teroris apalagi berbaiat sama ISIS.

Apa yang dilakukan RA, dengan menggunakan uang jajan dari orang tua untuk membeli black powder,setelah berkomunikasi dengan ISIS lewat media sosial, ini seperti Ben 10 saja. Masuk ke pasar alien, dan jajan makanan para alien. Wkwkwk.

Iklan

Jendral Kunyuk, Cebong & Kampret. Bag.(2)Asal dan arti kata Kunyuk, Cebong & Kampret

Seperti comebacknya boyband ternama, julukan jendral Kunyuk nge-hits lagi, lewat dinamika konflik politik antar partai, di momen pesta demokrasi kali ini.

Tak sekadar julukan.
Gus Dur, mempopulerkan Jendral Kunyuk, sebagai wujud sindiran. Gus Dur menyebutkan bahwa Jendral “K” lah, biang kerok kerusuhan Mei 1998.
Tak lama kemudian, Gus Dur pun menyebutkan yang dimaksud Jendral “K” itu adalah Jendral Kunyuk.
Lalu apa arti Kunyuk sebenarnya?
Mari kita lihat Kbbi.
Menurut Kbbi, arti Kunyuk adalah, kera kecil atau monyet.
Juga bisa diartikan ,
orang bodoh ( tidak tahu adat).

Di momen pemilu ini, Jendral Kunyuk memang datang belakangan. Setelah istilah Cebong dan Kampret.
Lalu, apa arti Cebong. Menurut kamus istilah pemilu bbc Indonesia,
Cebong

cebong / ce-bong / nomina /

Kata turunan: cebongers, cebby, kecebong

Cebongers banyak digunakan sejak Pilpres 2014 lalu untuk menyebut pendukung Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Kata ini diambil dari istilah kecebong yang artinya adalah larva binatang amfibi (seperti misalnya kodok) yang hidup di air dan bernapas dengan insang serta berekor.

Sebutan ini mungkin muncul karena para haters terinspirasi oleh fakta bahwa Joko Widodo gemar memelihara kodok ketika menjadi walikota Solo dan gubernur Jakarta.

Karena itulah segelintir orang bahkan menyebut Jokowi sebagai ‘raja kodok’ – berdampingan dengan sebutan cebongers (pengikutnya). Pemimpin FPI, Rizieq Shihab sempat meledek dengan sebutan ‘Jokodok.’

Sementara Kampret diterangkan sebagai berikut,

Kampret

kampret / kam.pret / nomina (n)

Jika pendukung Jokowi disebut cebong, pendukung Prabowo disebut dengan kampret. Istilah ini muncul sejak pilpres 2014, sebagai balasan atas kata cebong yang digunakan untuk menyebut pendukung Jokowi.

Kampret berarti kelelawar kecil, tapi kata ini sering juga dipakai untuk umpatan, jauh sebelum kata ini dipakai dalam konteks pilpres.

Tidak seperti kata cebong yang bersumber dari Jokowi yang gemar memelihara kodok, masih tidak diketahui kenapa kata kampret yang dipilih untuk menyebut kelompok pendukung Prabowo.

Ketiga istilah ini punya arti, asal, dan semangat yang satu sama lain tentu tidak sama. Meski ketiganyanya, kalau disebut, seringkali membuat orang marah. Tak heran, bbc Indonesia dalam kamus istilah pemilunya juga mengatakan, bahwa Kampret dan Cebong itu umpatan.

Yang perlu diperhatikan adalah, semangatnya.
Gus Dur,
menggunakan istilah Kunyuk ini,
untuk mengungkapkan fakta.

Bukan melakukan ujaran kebencian.

Jendral Kunyuk, Cebong & Kampret. Bag.(1)

pengajar dan peneliti di Pusat Kajian Komunikasi UI, Clara Endah Triastuti, mengatakan kepada bbc Indonesia, bahwa,

“Pergerakan politik menurut saya sekarang berubah. Mereka yang melakukan propaganda politik mulai melihat pasar juga dan mulai mengubah bentuk-bentuk propagandanya. Jadi politik itu tidak diletakkan dalam ranah formal, tapi dalam ranah yang populer.”

Ditandai dengan munculnya berbagai kata yang punya arti baru ketika dipakai dalam konteks pemilu. Seperti Kampret dan Cebong, serta beberapa istilah lainnya. Berbagai kata itu eksis beredar di berbagai media sosial.

Yang menarik bagi saya, adalah politik yang menurut pengamat komunikasi diletakkan pada ranah populer ini, dulu sering digunakan Gus Dur. Siapa tak ingat, kalimat “gitu aja kok repot.” Dan masih banyak lagi.
Hanya beda alam saja. Kalau dulu, istilah itu dipopulerkan Gus Dur lewat dan oleh media mainstream .
Sementara Kampret dan Cebong eksisnya ya di jagat maya, yang secara kontekstual di dorong oleh panasnya persaingan pemilu. tidak heran, jika kemudian dikelompokkan dalam kamus istilah pemilu.hhhh
Buat saya ini lucu dan menghibur. Karena setidaknya, ada buah yang bisa dipetik dari hasil event pemilu lima tahunan kali ini, yang sangat panas cuacanya.

berbagai istilah populer tersebut, Ibarat folklore yang menarik, yang bisa dikulik asal muasalnya.

Garin Nugroho, Apresiasi dan Caci maki KTI (Kucumbu Tubuh Indahku)

KTI adalah film hasil temuan otopsi Garin, tentang trauma apa saja yang mendera tubuh, milik si tokoh utama filmnya.

Otopsi bukan pada jenazah ini pun pernah saya temui dalam sebuah cerpen. Salah satu cerpen dalam kumpulan karya para cerpenis yang mengikuti ubud writers festival.

Bercerita tentang gadis bali dan tradisi setempat berakibat trauma pada tubuh gadis-gadis ini. Saya masih mencoba mengkonfirmasi ingatan saya, tentang isi persisnya. Karena sudah lama pudar . Kehadiran film Garin “KTI ” inilah yang membawa kembali setitik ingatan saya.

Bagaimana seorang tokoh adat membungkus nafsu birahi kedalam tradisi atau budaya yang melembaga. Orang tua mereka bahkan tak sanggup berkata tidak. Ini memang fiksi, tapi dipedalaman desa, pelosok-pelosok daerah, banyak praktik seperti tradisi seni hingga budaya praktik perdukunan yang menggilas masyarakat menengah bawah hingga tak jarang berakibat buruk, dan menimbulkan trauma.

Kembali meng abstraksikan berbagai kebudayaan negeri ini. Menyoal kebudayaan yang terkadang wujudnya ngeri. Dalam prakteknya cenderung tanpa kompromi, diluar batas nalar dan naluri kemanusiaan dan seringkali dipaksakan, tapi nyata. Eksistensi nya dilindungi. persoalan pelecehan seksual dalam bungkus adat- istiadat. Realitas ini perlu diceritakan. Garin salah satu yang menangkap nya.
“Saya melihat film-film soal seksualitas selalu tentang kelas menengah atas, atau tentang drugs dan budaya musik popular. Hampir tidak pernah tentang budaya tradisi,” ucapnya.

Ada sineas lain, pernah mengangkat hal serupa. Dalam film berjudul sang penari. Yang diperankan oleh Pricillia Nasution dan Oka antara. Bagaimana mungkin, pandangan bahwa seorang penari mampu memperlancar rejeki dan bisa membuat pasangan suami istri mendapatkan keturunan hanya dengan tidur bersama sang penari.

Saya rasa, bagi Garin, menyampaikan isu ini kepada publik agar bisa masuk keruang diskusi atau dialog massa, merupakan fokus KTI. Ia menjelaskan,
“Jadi (film ‘Kucumbu’) ada tujuannya. Setiap karya kan punya tujuan bisa sosial, estetik, politik, atau ekonomi. Kita harus tahu tujuannya apa,” ungkapnya

Kita perlu berbuat. Ada budaya berkesenian yang hidup dan riil mencederai tapi didiamkan tanpa ada penelitian atau studi, mengenai bagaimana budaya bisa dilestarikan atau dipaksa mundur dari kehidupan masyarakat yang menganut nya.

budaya tradisi yang tidak mampu menampilkan manusia sebagai(meminjam istilah
Nur Cholis Madjid )”makhluk moral” maka haruslah tereliminasi.

Kita butuh peran para stake holder untuk bersinergi. Dinas kebudayaan seharusnya turut serta. Memanfaatkan film ini, menunjukkan statementnya kepada Publik. Tapi ini belum cukup bagi saya untuk mengapresiasi KTI.
Ada cara-cara tertentu, untuk mengambarkan realitas yang ada tanpa mempertontonkan adegan yang belum tentu semua orang bisa memahami.
Dalam kasus praktek LGBT kaum sodom misalnya. Al Qur’an mengabarkan sebuah realitas, tapi tanpa seronokisme atau erotisme ala novel-novel Mirawe.

sebagai film independen layak tonton, ada penggambaran adegan yang mungkin untuk bisa diperbaiki.
Jika ini tentang berkata-kata, maka ada arena pemilihan diksi. Hati-hati memilih diksi agar tak disalah pahami.

#film

Kesimpulan; Gaduhnya Demokrasi yang Antik .

Kesimpulan tentang Gaduh nya Demokrasi yang antik di negeri ini.

Dari sebuah bacaan berjudul
“Dalam Demokrasi, Politik Harus Gaduh” yang diterbitkan tribunnews.com pada Minggu, 10 Januari 2016, terbaca mengapa politik demokrasi kita gaduh.

Diantaranya, disebutkan oleh
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda.

Yang berpendapat bahwa ;
“..kegaduhan politik itu karena demokrasi di Indonesia. Hanya saja, Hanta mengingatkan, kegaduhan harus memberikan manfaat.”

“Kalau tidak mau gaduh, jangan jadi demokrasi. Tapi gaduhnya harus ada faedahnya,” tukas Hanta.

Jika memang kita yang berdemokrasi ini diharuskan gaduh, Nurcholish Madjid berkesimpulan,bahwa: ” Demokrasi memang tak terelakkan, tapi penuh persoalan. Karena itu, harus selalu sempat dibicarakan. Hanya saja, barangkali, sebaiknya jangan terlalu gaduh, karena bisa dianggap sebagai lelucon atau guyonan.

Kesimpulan yang berbeda diangkat oleh Prabowo yang mengatakan,kepada wartawan investigasi Allan Nairn, bertahun-tahun yang lalu, ” bahwa Indonesia tidak siap untuk demokrasi.”

Demokrasi yang mana. Rakyat yang mana. Indonesia di masa yang mana pula.

Kesimpulan itu terpatahkan. Nyatanya rakyat negeri ini tengah melalui pengalaman berdemokrasi. Semu bebas berpikir dan berpendapat. Bangsa ini telah bersiap menentukan nasibnya sendiri sejak masa awal kemerdekaan.

Sebagai bangsa yang terintegrasi lewat Pancasila yang mengandung nilai-nilai dasar dalam berdemokrasi. Kedua sila ini buktinya,”Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” & “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan, perwakilan.

Willy Eichler (almarhum), salah seorang
pemikir partai sosial-demokrat Jerman atau SPD, bahwa kini
bukan zamannya lagi untuk memahami
suatu nilai politik seperti
demokrasi dan sosialisme secara ideologi dan dogmatis.
Demokrasi umpamanya tidak dapat dipahami melalui perumusan-perumusan yang sekali dibuat kemudian berlaku untuk selama-lamanya dan
mutlak,melainkan harus ditafsirkan secara dinamis, sehingga demokrasi adalah berarti proses demokratisasi, yaitu keadaan yang memungkinkan semakin diperbesarnya
kebebasan-kebebasan kemanusiaan secara konsisten.Demikian juga dengan sosialisme.”
Pendapat ini di nukil dari “kebebasan berbicara dan berpikir” oleh Nurcholish Madjid dalam buku nya yang berjudul “Islam kerakyatan dan keindonesiaan.”

Maka kegaduhan dalam politik demokrasi itu berarti wajar. Tidak lantas membuat kita menjadi tidak siap berdemokrasi.
Kita tidak pernah menolak untuk menafsirkan demokrasi secara dinamis dan tetap memperjuangkan Pancasila dalam watak dan proses masyarakat yang dinamis pula didalamnya. Demi berlangsungnya hak asasi untuk kebebasan berpikir dan berpendapat.

Patah hati, Zikir,dan SDD(2)

Fakta bahwa Sapardi pernah berkiprah untuk majalah Horison, membuat saya menjadi tidak asing dengan sosoknya. Karena, dulu majalah Horison jadi satu pilihan bacaan sastra yang tersedia di lemari perpustakaan. Saya termasuk yang suka membacanya. Bahkan gaya cerpen tulisan saya pun hasil ngulik dari Horison ini. Saya menjadi gandrung dengan majalah Horison. Meskipun saya sekolah di pesantren.

Bagi saya, Horisonlah yang membuat saya kenal dengan khazanah karya sastra Indonesia. Jadi bukti eksistensi para sastrawan Nusantara.
Tentunya setelah buku ajar bahasa Indonesia. Hehe.

Di pesantren bacaan itu diseleksi. Novel islami seperti ayat-ayat cinta, boleh beredar. Majalah islami yang umum itu ya Annida. Bengkel cerpen Annida adalah salah satu rubrik menarik didalamnya. Tapi pengalaman saya yang menarik dengan Annida, justru saat membaca rubrik cerpen berbahasa Inggris. Seringkali saya membacakan dan menterjemahkan isi cerpen itu untuk seorang teman. Padahal saya nggak persis tahu semua arti kosa katanya. Benar-benar sok tahu. Ya sebaiknya saya bertobat soal itu.

Hmmmmmm,….

Bicara tentang Sapardi awalnya, tapi sastra akhirnya. Karena itu dunianya. Tempat ia berkiprah hingga menua. Tak heran, jika Sapardi dan sastra, sudah seperti ruh dan tubuh yang menyatu. Ia berkiprah dengan khusyuk dalam literasi kesusastraan, menyatukan antara pikiran dan hatinya seperti shalat dan berzikir.

Zikir

Membaca sajak Sapardi saat patah hati karena sedang jatuh di uji, itu seperti menemukan penghibur hati.
Membayangkan langit, awan, dan hujan diceritakan dalam kalimat puitis.
Sajak-sajak yang diusahakan agar harmoni. Agar menggambarkan isi hati dan pikiran tentang sebuah pengalaman merasakan ini dan itu.

Seperti cinta.

Sudut pandangnya tentang cinta pun menjadi pasaran di seluruh negeri. Semua yang jatuh cinta dan menukil sajak cinta Sapardi, maka ia sedang mengemukakan apa yang dilihat Sapardi. Sajak itu tetap miliknya, meski diberi ribuan sudut pandang berbeda, oleh pembaca yang menikmatinya.

Tapi itu tidak terjadi, pada setiap rukuk dan sujud seluruh umat muslim. Meski Nabi Muhammad Saw bersabda agar salat seperti beliau, tapi takbir hingga salam itu, akan dihisab sebagai hak milik pribadi.

Patah hati , zikir dan SDD (Sapardi Djoko Damono) (1)

Nama Sapardi Djoko Damono dan sajak nya muncul di surat kabar. Setiap terbit saya ambil halaman itu. Karena Sapardi, menulis semua rasa dalam sajak -sajaknya. Ada asam, asin, manis, dan pedas. Setidaknya bagi saya pribadi.

Meski begitu tak satupun saya hafal, semua halaman koran itupun saya buang akhirnya. Untuk apa dihafal, saya cukup menikmatinya, mengeluarkan semua emosi kemarahan dan kekecewaan dengan membaca sajaknya.

Memang karena tak ada kawan yang paham. Keresahan itu seperti mencari jawaban. Saat itu sajak Sapardilah obatnya. Dan menjadi kawan pemberi semangat. Saat lewat di gramedia, buku-buku sajaknya jadi seperti menyapa. Meski saya tak membelinya.

Siapa sapardi.

Mengapa sajaknya terkadang seksi. Kadang berani, berapi-api. Seperti manis nya gula dan pahitnya kopi, bila merayu rayuannya erotis sekali. Kadang berpijar seperti bola api. Kadang mendesak – desak memaksa pembacanya asyik hingga lupa diri. sajak karya sapardi rimanya seolah membuai, mengelabui karena nikmat dibaca, dirasa dan di telan maknanya.

Seperti pintar memainkan pikiran dan perasaan pembaca. Sapardi memang pintar. Ia memang seorang guru besar dan tentu saja pujangga.
Bagi saya, Sapardi ternyata bisa lebih dari sekedar pujangga.

Ada satu kesempatan, dimana seorang teman, membawa saya ketengah event sastra di Surakarta. Saat acara di gelar seorang penulis lokal yang juga sastrawan sepertinya, tengah memberi kuis yang berhadiah buku karyanya sendiri.
Saya penasaran,” memang apa isi buku itu ?”
Motivasi itu mendorong saya maju kedepan. Dia meminta saya membaca puisi. Entah kenapa, yang terlintas sajak milik sapardi.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu
Aku ingin mecintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
Sapardi Djoko Damono 198

Ini saya copas dari tetangga sebelah ya. Hehe. Karena saya yakin saat itu bahkan tidak hafal, dan hanya meracau saja.
Tapi pada akhirnya,entah kenapa, buku itu diberikan ke saya. Ya karena saya baca sajak Sapardi mungkin. Mungkin juga tidak.

Sapardi Djoko Damono, nama itu tak akan saya sebutkan, jika karyanya tidak dimuat oleh surat kabar.

Boleh saja bukan, kalau sampai saya bilang, betapa romantisnya Sapardi ini. Menyurati kami , surat cinta romantis lewat surat kabar. Mengumumkan pada semua orang bahasa cintanya.
Ia seolah berkata, jangan patah hati sekarang, jangan patah arang, lihat ada sajak-sajak indah yang sayang dilewatkan.

Fitrah sapardi adalah sebagai laki-laki. Tak heran, jika sajaknya bisa terasa berani, saat ia menggunakan kata perempuan dan peniti. Ia bisa dirayu, karena bukan malaikat.
Hehe, soal yang ini silahkan dicari,seleksi dan teliti sendiri. Kesimpulan nya bisa beda ya.

Saat Chairil Anwar dengan Aku meledak lewat AADC, saat itulah pangsa pasar Sapardi pun terlihat. Mereka yang nonton AADC dan membaca puisi binatang jalang, sangat mungkin menikmati karya Sapardi. Mereka bisa membeli buku sampai filmnya.
Gaya penuturan AADC adalah gaya komunikasi antara sastra dan remaja.
Sapardi adalah salah satu nama yang bisa melakukannya.